Thursday, March 31, 2011

‘Ditipu’ Sejarah Bangsa Sendiri

Jika ada bagian sejarah yang dicat kelabu di atas kelabu, inilah bagian itu. Orang-orang dan kejadian-kejadian tampak seperti kebalikan 
si Schlemihl[1], seperti bayang-bayang  yang 
kehilangan tubuh.
   (Karl Marx)  

Waktu SD, Amah (panggilan masa kecilku) nangis kalau melihat foto 7 Pahlawan Revolusi,” Ibu berkata saat kami duduk-duduk santai seusai makan malam. Aku terkejut dan mulai menertawakan kisah unik masa kecilku itu.

Usin[2] cerita, Amah sesegukan saat pelajaran IPS Sejarah di sekolah. Amah terharu saat membaca dan mendengarkan sejarah wafatnya 6 Jenderal dan 1 Letnan. Kasihan katanya”, Ibu melanjutkan.
Kisah ini seperti mengingatkanku. Semasa kecil, aku sangat meresapi dongeng pembunuhan terhadap 7 Pahlawan Revolusi itu. Tiap malam 30 September[3], dengan semangat aku menonton film buatan pemerintah mengenai G30S (Gerakan 30 September). Film panjang ini sukses membuatku merasa sedih tiap melihat foto 6 Jenderal dan 1 Letnan itu. Aku tak kuasa menahan haru membayangkan apa yang mereka alami sebelum menemui ajal.

Cover CD Film Penumpasan G30S/PKI. Ini film horor, kawan.
Selain haru, film tersebut juga sukses membuatku ketakutan, takut hantu jenderal-jenderal itu bergentayangan karena dibunuh dengan kejam. Nah, cerita hantu jenderal gentayangan adalah salah satu pengalaman masa kecil yang masih sangat kuingat. Di Sekolah Dasar tempatku belajar, SD Fatahillah Cibubur, tiap kelas ditempeli foto salah satu Pahlawan Revolusi yang terbunuh pada 1 Oktober 1965 dini hari.

Kejadian ini terjadi ketika aku duduk di kelas 3 SD. Di tembok belakang kelas kami, terpajang sebuah foto Jenderal D.I. Panjaitan. Pagi itu, pada jam istirahat, seperti biasa kami bermain-main. Aku masih duduk di bangkuku dan sebagian temanku bermain di depan kelas. Tiba-tiba, seseorang teriak histeris. Disusul teriakan temanku yang lain. “Matanya bergerak-gerak!” Salah seorang dari mereka menunjuk foto Jenderal D.I Panjaitan di belakang. Secepat kilat mereka lari keluar kelas. Aku dan teman-teman lain yang ada di dalam kelas, ikut lari keluar dengan terburu-buru. Kami begitu ketakutan. Dan tidak kembali ke kelas sebelum kelas penuh.

Ketakutan dan kesedihan mendalam ini merupakan hasil dari pengetahuan yang kudapat dari Buku IPS Sejarah dan guru di sekolah. Sepanjang masa kecilku, aku tidak pernah tahu, peristiwa lebih besar dan lebih tragis sebenarnya terjadi setelah malam 1 Oktober 1965 itu. Tak pernah ada film yang dibuat untuk merekam pembantaian sesungguhnya, yang terjadi setelah malam yang dikeramatkan menjadi sebuah monumen itu. Tak pernah tertulis dalam buku Sejarah di sekolahku. Pun tak terceritakan oleh guru Sejarah dan orang tuaku.

Kala itu aku dan jutaan anak di Indonesia tak tahu, di tahun 1965 majalah Time pernah memuat berita: "Pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan dalam skala yang sedemikian sehingga pembuangan mayat menyebabkan persoalan sanitasi yang serius di Sumatra Utara, di mana udara yang lembab membawa bau mayat membusuk. Orang-orang dari daerah-daerah ini bercerita kepada kita tentang sungai-sungai kecil yang benar-benar terbendung oleh mayat-mayat. Transportasi sungai menjadi terhambat secara serius"[4]

Tak habis pikir bahwa Indonesia yang kucinta ini bisa mengalami sejarah kelam berbau amis darah, aku kembali mendengar cerita serupa. “Waktu itu, Bengawan Solo sampai berwarna merah. Mayat-mayat di sana terlihat timbul-tenggelam, timbul-tenggelam..,” tutur Bu Lestari, salah satu korban Peristiwa ’65 kepadaku.

“Pernah satu ketika, ada salah seorang korban yang akan dibunuh sedang hamil. Ditunggu dulu, sampai lahiran. Setelah lahir, Wanita itu dipenggal lehernya, kemudian ditaruh di sampan. Anaknya disusui ke mayat Ibunya. Dan kemudian sampan itu dihanyutkan di Bengawan Solo. Siapapun yang menolong anak itu, akan dibunuh juga,” Bu Sri Sulistiawati yang lebih akrab kupanggil Bu Lis, ikut bercerita.

Aku bergidik ngeri. Bu Lestari dan Bu Lis bercerita banyak hal pada kunjunganku, sore 21 November 2010 ke Panti Jompo Waluya Sejati Abadi[5]. Di sana aku juga berjumpa dengan beberapa korban peristiwa ’65 lainnya. Mereka adalah mantan tapol 1965. Di panti ini aku sering kali terkejut dan terbengong-bengong. Ternyata, banyak sekali sejarah negeri ini yang tak kuketahui.

Ada kisah pilu lain yang kudengar. “Mereka mengambil apapun yang mereka inginkan dari kita, termasuk istri saya. Mereka inginkan itu, diambillah sudah”, Pak Tumiso bercerita dengan nada yang sulit sekali kutebak. Sewaktu aku menanyakan kabar anaknya, beliau menjawab, “Dia ikut istri saya...” Beliau terdiam beberapa saat seperti mencari kata yang tepat, “Hebatnya, anak saya itu...menyalahkan saya. Dia bilang sama saya, pantas saja kalau ibu kawin lagi, bapak kan tidak memberikan nafkah begitu lama.”

Aku tertegun. Membayangkan apa yang dirasakan lelaki yang menceritakan ini dengan wajah terlihat tegar. Dipersalahkan anak sendiri ketika istrinya diambil oleh orang yang telah mengasingkan dan memenjarakan kehidupannya.

Ini baru sepenggal kisah dari seorang tahanan politik. Belum kisah-kisah pelanggaran HAM lain yang dialami sendiri oleh Pak Tumiso, begitupun yang dialami jutaan orang lainnya sepanjang akhir tahun 1965 sampai 1967 bahkan hingga tahun-tahun setelahnya. Jutaan orang dibantai, ditahan belasan tahun tanpa diadili, diasingkan, disiksa hingga melampaui batas perikemanusiaan. Jutaan rakyat Indonesia telah dirampas kehidupannya.

Belum habis sesalku ketinggalan sejarah pedih begitu banyak, aku kembali dikecewakan oleh kenyataan bahwa sejarah yang ku kunyah sejak kecil adalah sejarah fiksi. Sejarah yang dihidupkan tanpa bukti-bukti yang jelas. Salah satu bukti yang sebenarnya andal malah tidak terekspos. Bukti ini adalah Visum et Repertum yang dilakukan para dokter di RSPAD Gatot Subroto.[6] 

Tahun 1987, seorang ilmuwan dari Cornell University, Benedict Anderson mengumumkan salinan laporan Visum et Repertum terhadap 6 jenderal dan 1 letnan. Dokumen ini tidak diumumkan pemerintah Suharto. Dari laporan ini aku mengerti bahwa apa yang selama ini kutahu tentang bagaimana para perwira dibunuh ternyata palsu. Para perwira tersebut terbunuh oleh tembakan dan luka-luka tusukan bayonet; mereka tidak diiris-iris ribuan kali dengan silet, mata mereka tidak dicungkil, dan mereka tidak pula dimutilasi. 

Bukti ini segera saja mementahkan cerita yang selama ini kuketahui. Aku merasa tertipu sejarah bangsaku sendiri. Mengapa cerita kematian pahlawan-pahlawan ini harus dibengkokkan? Ada apa dibalik usaha mengarang sejarah tentang wafatnya mereka? Kenapa dokumen visum ini disembunyikan?

Presiden Sukarno juga mengeluhkan tentang beberapa kisah tertentu dalam surat-surat kabar, seperti misalnya salah satu yang mengatakan bahwa seratus orang anggota Gerwani[7] menggunakan silet untuk mengiris-iris penis para jenderal, “Apa dikira kita ini orang bodoh! Nadanya ialah apa? Untuk membangun kebencian! Masuk akal? Tidak! Artinya, apa masuk akal, penis dipotong-potong met 100 giletten?…Zijn wij nou een volk van zoo’n lage kwaliteit [Apakah bangsa kita berkualitas sedemikian rendah] untuk menulis di dalam surat kabar barang yang bukan-bukan!”[8]

Presiden Sukarno sendiri merasa gerah dengan dongeng-dongeng yang didengungkan di media massa. Namun, mengapa yang tercetak di buku sejarahku adalah dongeng itu?
Tersinggung karena merasa dibohongi buku Sejarah, aku jadi meragukan kebenaran sejarah lain dari peristiwa ini. Apakah benar PKI yang bertanggung jawab penuh atas peristiwa ini? Apakah runtutan peristiwa yang selama ini ku pelajari di sekolah adalah benar? Hal apa lagi yang sebenarnya tertutupi? Kepercayaanku akan kesahihan sejarah Indonesia menjadi terusik.

Kamis, 25 November 2010, aku berjalan-jalan sore ke Monumen Pancasila Sakti. Ada yang lain dari kunjunganku kali ini. Lama sekali aku memperhatikan salah satu relief di bawah patung 7 Pahlawan Revolusi. Relief ini nampaknya adalah Bung Karno yang sedang memegang supersemar yang terlihat seperti sengaja ditunjukkan.
Relief Bung Karno yang tengah memegang Supersemar 1966. Apakah relief ini adalah usaha untuk menunjukkan bahwa Bung Karno mendukung usaha penumpasan PKI?




Soal Supersemar, aku temui lagi di dalam Museum yang disebut Museum Pengkhianatan PKI. Dalam museum ini ada satu diorama besar yang menceritakan lahirnya Supersemar. Aku senang sekali melihat keapikkan penggambaran kelahiran Supersemar ini. Di samping deorama ini ada satu deorama besar lain yang menarik perhatianku. Di sana ada seorang lelaki berwajah sedikit merah. Nampaknya Ia sedang diambil sumpah oleh seseorang yang bersurban di belakangnya. Diorama ini nampak seperti persidangan. Ah ya, ini deorama pengangkatan Pak Suharto menjadi presiden. Terlihat dari tanggalnya, pelantikan ini terjadi 1 tahun setelah Supersemar. 

Tunggu dulu, aku jadi bingung, mengapa di Museum Pengkhianatan PKI ini ada diorama Pelantikan seseorang menjadi Presiden? Apa hubungan pelantikan presiden dengan wafatnya petinggi-petinggi AD dan PKI? Tiba-tiba seorang anak berusia sekitar 7 tahun di sampingku bertanya pada Ibunya., “Mama, bapak ini jadi presiden karena jenderal-jenderal itu meninggal ya?”

Menurut anda?

[1] Schlemihl adalah makhluk khayali yang tubuhnya tak memantulkan bayangan karena ia sudah menjual bayangannya kepada setan. Makhluk ini merupakan karakter utama dalam dongeng Th e Wonderful History of Peter Schlemihl (1813), buah karya pengarang Jerman Adelbert von Chamisso (1781-1838).
[2] Usin adalah nama panggilan dari Kakak Pertamaku. Selama duduk di Sekolah Dasar, aku selalu sekelas dengannya. Aku masuk SD diusia 5 tahun.
[3] Selama SD, aku selalu menyaksikan film ini hingga tahun 1998.
[4] Terri Cavanagh dalam World Socialist Web Site “Pelajaran-Pelajaran Dari Kudeta 1965 Indonesia”
[5] Panti ini diresmikan tahun 2004 oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Di Panti ini setidaknya ada 22 orang korban Peristiwa 1965.
[6] Benedict Anderson, “How did the Generals Die?,” Indonesia no. 43 (April 1987).
[7] Gerwani adalah singkatan dari Gerakan Wanita Indonesia.
[8] Setiyono dan Triyana, Revolusi Belum Selesai, I:89.

3 comments:

  1. wah, nice info sist..
    jd dpt banyak pencerahan baru ttg sejarah indonesia..

    btw tgl 25 november pas bgt ulang tahun saya, ehe
    *ga penting

    ReplyDelete
  2. @uchenk:
    Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejank, Uchenk.

    Hehehehe..brati aku ngerayain ulang tahun kamu di Lubang Buaya dong ya? :D

    ReplyDelete
  3. hanya bisa menghela nafass... inilah sejarah kelam bangsa kita. demi kekuasaan kita anak indonesia ditipu oleh sejarah.

    ReplyDelete